Ada daerah yang dijuluki Kota Tikar. Wah, emang kenapa ya?

Ada daerah yang dijuluki Kota Tikar. Wah, emang kenapa ya?

0

Seputarsumsel.com – OKI,
Hey, masih ada gak sih alas duduk tikar dirumahnya kamu? Kalo masih ada, selamat ya, ternyata kamu masih mau menyukseskan produksi lokal sendiri. Nah, di Kabupaten Ogan Ilir, ada lho kecamatan yang dijuluki Kota Tikar, yakni kecamatan Pedamaran.

Julukan ini diberikan karena mata pencaharian sebagian besar masyarakat disini adalah dengan berprofesi sebagai pengrajin anyaman tikar purun. So, selain udah jadi tradisi turun temurun, profesi ini juga menjadi tumpuan kehidupan masyarakat, sejak ratusan tahun yang lalu.

Tahu gak, purun sendiri merupakan rumput liar panjang yang tumbuh di lebak atau rawa gambut. Purun kemudian diambil dan dikeringkan dengan cara dijemur selama dua hari. Kemudian, purun ditumbuk sampe pipih lho, dengan alat penumpuk purun yang disebut antan. Nah, hadil tumbukan inilah yang baru dianyam jadi tikar.

Pengrajin anyaman tikar purun, Sriyati bilang, banyak banget barang kebutuhan sehari-hari yang dibuat dari anyaman purun ini. ” Selain dibuat tikar, kini purun juga sudah dibuat dalam bentuk tas, sendal, kotak tisu, tudung nasi dan anyaman lainnya,” ujarnya.

Menariknya, butuh waktu satu hari lho, buat menghasilkan satu helai tikar. Tapi ini berlaku buat mereka yang udah mahir. So, buat pemula, menganyam bisa sampe dua – tiga hari lamanya. Then, hasil dari anyaman ini kemudian dijual ke pengepul.

“Satu helai tikar dihargai enam ribu rupiah. Rata-rata dalam sehari masyarakat bisa menghasilkan 5-7 helai tikar,” ungkapnya.

Jangan salah ya, anyaman tikar purun masyarakat Pedamaran ini kesohor dimana-mana lho, bahkan udah sampe ke berbagai kota di Indonesia, seperti Medan, Pekanbaru, Padang dan Lampung.

“Meski begitu, terkadang kami mengalami kesulitan soal bahan baku,” ungkap Maryulis, Kepala Desa Pedamaran.

(Teks dan Foto : RuL/IST/17)

Your email address will not be published. Required fields are marked *