Berbuka dengan kuliner Ramadan legendaris Roti Ko’Ing

Berbuka dengan kuliner Ramadan legendaris Roti Ko’Ing

0

Seputarsumsel.com-Palembang,
Heyhooo foodlovers, Tahu gak kamu dengan roti yang berbentuk bulat dan keras, kalo mau dimakan gak enak langsung gigit aja, karena selain keras juga rasanya tawar. Yups, ini dia roti Ko’Ing. Makanan khas Sumatera Selatan ini biasanya dibuat dan dijual pas bulan Ramadhan aja,serta dijadikan menu berbuka dulu.

Makanan unik ini biasanya dikonsumsi dengan direndam di dalam air susu atau teh hangat, tapi ada juga yang menambahkannya pada kuah kolak. Sensasi rasa yang dihasilkan dari roti Ko’Ing ini sangat unik, apalagi dicampur berbagai varian kuliner.

Meski saat ini roti Ko’ing udah mulai langka dan jarang ditemukan di warung-warung sekitar lingkungan tempat tinggal kita, tapi si mungil legendaris ini gak akan pernah hilang ingatan. Sebab, masih ada pelestarinya nih, yakni Puspita Sari, yang terus menekuni usaha pembuatan roti Ko-Ing hingga saat ini. Mau tau cara pembuatan roti Ko-Ing ini, simak yuk!

Roti ini berbahan baku gandum dan ragi, dibuat dengan cara yang sederhana, dimana semua bahan baku yang ada dicampur dengan air, kemudian dilarutkan menjadi adonan hingga bentuknya mengenyal. Lalu, adonan itu dibentuk beberapa bagian dan dipotong-potong bulat kecil, lalu didiamkan selama 2 jam, hingga bentuk roti kenyal dengan sempurna. Barulah kemudian dipanggang ke dalam oven dengan suhu tertentu.

Dirinya membuat roti Ko’Ing saat ramadhan aja bro. Pembuatan roti ini sudah jadi tradisi keluarga saat masuk bulan puasa. “Keluarga kami sudah membuat roti ini sejak 10 tahun lalu,” katanya.

Setiap ramadhan tiba pula, keluarga ini mampu menghabiskan 625 kilogram gandum untuk membuat roti Ko’Ing. Nah, kalo kalian mau nyari kuliner legendaris yang satu ini, kalian bisa nyari di setiap pasar tradisional di Palembang, dengan harga Rp5 ribu perbungkus.

Menekuni usaha sibroti legendaris ini, menjadi berkah tersendiri, sebagai bentuk mempertahankan dan melestarikan kuliner roti Ko’Ing, yang bahkan ada sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam.

(Teks dan Foto : RuL/ 17)

Your email address will not be published. Required fields are marked *