Berburu kelezatan sambal ikan asap di Pasar Seni bawah Ampera

Berburu kelezatan sambal ikan asap di Pasar Seni bawah Ampera

0

Seputarsumsel.com-Palembang,
Buat lo yang suka ngemil, gak ada salahnya untuk cari-cari cemilan di Pasar Seni di bawah Jembatan Ampera. Di pasar ini, lo bakal nemuin banyak kuliner.

Adalah Dwi Sabda, salah satu produsen cemilan ringan yang mengikuti pameran di Festival Pasar Seni yang dihelat oleh Dinas Pariwisata Kota Palembang hingga 10 Mei 2017 mendatang.

Saat menyambangi stand yang di tempati oleh CSR PT Chonoco Philips ini tampak biasa, sekilas produk yang ditawarkan biasa saja. Tenyata itu salah. Ketika berbincang lebih dalam dengan Koordinator Marketing Dwi Sabda, Yuni Eka Wati dan mencicipi produk mereka, baru tau, kalo produk mereka spesial lho.

Ada produk yang berbahan baku dari tumbuhan endimik di daerah tertentu. Mereka juga memastikan memproduksi dari bahan baku terbaik.

“Kita punya kripik pisang. Iya, kripik pisang itu biasa, dan indentik dengan derah Lampung, karena Lampung terkenal dengan kripik pisang coklatnya. Tapi kripik pisang kami khas sekali, dibuat dari pisang khusus uang tumbuh di daerah MUBA, pisang bekaran namanya. Rasanya enak dan gurih,” jelas Yuni baru-baru ini.

Selain itu, pihaknya juga memproduksi makanan lain, yakni keripik ubi, rengginang, dan sambal ikan. Nah, jika rengginang umumnya terbuat dari beras ketan, tapi disini Dwi berinovasi dengan menyajikan renginang berbahan dasar ubi kayu. “Ubi kayu yang sudah dikupas dan cuci bersih, kemudian diparut, dikukus, baru bisa dicetak dibuat rengginang,” jelasnya.

Lagi-lagi mengedepankan kualitas, sambal ikan buatan Dwi Sabda gak berasal dari ikan peliharaan, melainkan ikan yang hidup secara alami di sungai. Sambal ini bukan ikan yang digoreng lalu disambal seperti biasanya, tetapi ikan menjadi bahan dasar tersebut harus melalui proses salai (diasapkan) terlebih dahulu, kemudian disuwir-suwir, dan proses akhirnya barulah disambal.

Guna memenuhi selara konsumen, Dwi Sabda menghadirkan dua varian sambal, yaitu sambal ikan patin dan sambal ikan gabus. Untuk tingkat kepedasan, sambal ini sengaja dibuat sedang, gak terlalu pedas, namun tetap mantap di lidah. Gak heran deh, kalo sambal ini cocok dipasangin dengan berbagai makanan lain, terutama nasi. “Nasi hangat dan sambil ikan ini, pastinya enak banget kan,” ucapnya dia.

Soal gizi? Tentu banyak banget gizi terkandung didalamnya. Ikan-ikan segar yang pakai itu merupakan ikan yang sehat untuk di konsumsi, sudah dipercaya sejak dulu.

Sementara untuk harga keripik yang ia produksi, sangat bersahabat lho. Kripik pisang hanya dihargai Rp15 ribu per 100 gram, kripik ubi Rp8 ribu per 80 gram, rengginang Rp18 ribu per 100 gram, sambal ikan patin Rp40 ribu per 250 gram, dan sambal ikan gabus Rp50 ribu per 250 gram. Beli yuk, mumpung masih ada di Pasar Seni!

(Teks dan Foto : Ratih/17)

Your email address will not be published. Required fields are marked *