Cerita sukses Rajuter KKP mendulang rupiah dari kreasi rajutan

Cerita sukses Rajuter KKP mendulang rupiah dari kreasi rajutan

0

Seputarsumsel.com-Palembang,
Bermula hanya kumpul-kumpul, kemudian lahirlah ide cemerlang untuk membentuk Kelompok Rajuter Kancil Putih Pulau (KPP), Jalan Kancil Putih Pulau RT 47 RW 11 Kelurahan Demang Lebar Daun, yang beranggotakan para ibu rumah tangga di lingkungan sekitar.

Kegiatan ini merupakan bentuk pemberdayaan ibu rumah tangga lho gengks, untuk membantu perekonomian keluarga mereka. Meski baru berusia setahun, pesanan pun rutin ada. Hal ini membawa keberuntungan bagi kelompok yang beranggotakan 20 orang tersebut. Dalam sebulan usaha ini telah beromzet hingga jutaan rupiah.

Pasalnya, rajutan demi rajutan yang lahir dari tangan kreatif ibu-ibu tersebut, kemudian menjelma menjadi lembar-lembar rupiah yang menggiurkan. Bahkan, berkali-kali produk Rajuter KPP muncul diberbagai pameran. Yang terakhir nih, rajuter ada di pameran di Kelurahan Demang Lebar Daun beberapa waktu lalu.

Ada baju, tas, dompet, sepatu, kotak tisu, sarung bantal, taplak meja hingga bros merupakan produk mereka, yang secara kualitas gak usah diragukan lagi. Sebab, tak sembarang menggunakan bahan baku. Mereka sangat selektif memilih benang sebelum dirajut menjadi berbagai kerajinan yang apik, kuat, dan bermutu.

“Kita pilih benang yang bagus dan halus, supaya hasilnya bagus,” kata Pembina Kelompok Rajuter KPP, Marhama baru-baru ini.

Lalu, dari mana mereka belajar ya? Dijelaskan Marhama, ia sebagai penggerak, kebetulan memiliki keluarga yang pandai merajut, setelah menyaksikan para ibu rumah tangga di lingkungannya, mengisi waktu luang hanya sebatas berkumpul dan bercengkrama doang, lantas ia berfikir, untuk mengisi waktu luang tersebut dengan kegiatan yang lebih bermanfaat.

Silaturahmi, keakraban dan keharmonisan antar tertangga tetap terjalin, namun dapat melakukan kegiatan produktif yang menghasilkan pundi-pundi uang. Kemudian para ibu-ibu tersebut berlatih merajut, selanjutnya terlahirlah kelompok ini.

Kini, tak ada lagi waktu terbuang sia-sia, dari menit ke menit, jam ke jam, mereka bercengkrama dengan jarum rajut (hakken), merajut benang-benang menjadi produk ekonomi kreatif. Tak perlu tempat khusus atau jam kerja khusus, usai menyelesaikan tugas utama mengurus rumah tangga, tangan-tangan mereka telah terbiasa meliuk-liukkan benang mengunakan hakken sambil menyaksikan sinetron favorit, atau duduk di teras bercengkrama dengan tetangga.

“Di rumah masing-masing mereka mengerjakan pesanan. Seminggu dua kali, tiap Selasa dan Jum’at kami baru berkumpul, biasanya kumpul di rumah saya. Dan produk yang belum terjual juga dikumpul di tempat kami. Di teras kami punya outlet kecil, atau mungkin nantinya akan di bawa ke pameran,” terangnya.

Menurutnya, merajut itu butuh keuletan, kesabaran, dan ketelatenan. Namun, tak sesulit yang dibayangkan, bila ada kesungguhan pastilah bisa. Disebutkan dia, lama waktu menyelesaikan rajutan tergantung tingkat kemahiran, tingkat kesulitan, dan ukuran. Untuk satu tas, ia butuh seminggu untuk menyelesaikannya.

Sedangkan untuk produk yang kecil-kecil, seperti dompet dan bros bisa kelar lima hingga 10 buah per perminggunya.

Mengingat semua itu, sebanding, kalau produk-produk kerajinan tersebut dibanderol cukup menggiurkan, antara Rp10 ribu – RpRp500 ribu per buahnya.

“Kalo bros ini sepuluh ribuan saja. Untuk yang lain tergantung ukuran, misal kalo tas dibanderol mulai Rp150an ribu – RpRp500 ribu,” ucapnya.

(Teks dan Foto : Ratih/17)

Your email address will not be published. Required fields are marked *