Di desa ini, Ahmad mampu ubah serai jadi minyak Sereh Wangi

Di desa ini, Ahmad mampu ubah serai jadi minyak Sereh Wangi

0

Seputarsumsel.com-Lahat,
Ternyata, selain digunakan untuk bumbu dapur, daun serai bisa juga diolah menjadi berbagai produksi lilin aromaterapi, minyak angin dan lain-lain lho. Adalah Pak Ahmad Din (58), yang udah membudidayakan tanaman serai menjadi minyak yang berguna banget buat kita. Ahmad mampu memanfaatkan lahan miliknya untuk ditanami serai sejak tahun 2013 lalu. Bekerjasama dengan PT. Muara Alam Sejahtera, ia mengolah serai menjadi minyak yang dinamai Sumber Wangi, dan bisa dijual dengan harga tinggi. Tahu kan, kalo serai emang punya kandungan minyak atsiri, yang memang bersifat balsamic.

Awalnya, Ahmad menuturkan, ia ditawarin untuk menjual tanah miliknya, yang berlokasi di Jalan Lintas Sumatera Desa Muara Maung Kecamatan Merapi Barat Lahat, Sumatera Selatan oleh perwakilan dari PT. Muara Alam Sejahtera. Namun, ia menolak, karena merasa memiliki 6 orang anak, maka harus ada yang ia simpan untuk anak-anaknya kelak. Karena itu, ia kemudian ditawari untuk bekerjasama dengan pihak perusahaan, dalam membudidayakan serai dan mengolahnya.

“Saya rasa ini merupakan peluang untuk terus berinovasi dalam lingkup pertanian. Awal terjun kedalam bisnis ini, saya dan teman-teman mengikuti pelatihan terlebih dahulu, mulai dari proses penyulingan hingga akhirnya bisa memproduksi sendiri hingga ke proses akhir,” ujarnya.

Ahmad yang sempat menimba ilmu di bangku SMK Pertanian meski gak sampe tamat ini mengklaim, proses produksi yang disupport oleh perusahaan sudah lebih modern dibanding yang lain lho.

“Proses yang dilakukan dari awal yakni serai dipanen, lalu di keringkan dan diangin-anginkan. Setelahnya, serai kering dimasukkan ke bak dan dilakukan pemanasan selama lebih kurang 2 jam. Dari sini, proses pengeluaran minyak serai berlangsung hingga 7 jam lamanya,” jelasnya panjang lebar.

Jangan dikira serai yang dihasilkannya cuma dalam hitungan kilo ya. Tercatat, saat ini Ahmad mampu menghasilkan hingga 2,5 ton serai, dengan hasil Sumber Wangi sekitar 6-8 kilogram. Dan untuk menunggu kembali ke awal panen serai, hanya menunggu sekitar 2 bulan 10 hari saja.

Semakin baik kualitas, semakin tinggi nilai ekonomi Sereh Wangi

Head of CSR PT. Muara Alam Sejahtera, Ardianto juga ikut menjelaskan terkait budidaya dan produksi tanaman serai ini. Katanya, sekilo Sereh Wangi hasil Pak Ahmad mampu dijual seharga 180 ribu lho. Eits, ini harga terendahnya doang!

“Iya, kalo kualitasnya lebih baik lagi, dalem arti kadar Rendemen, Citronella, dan lainnya lebih banyak, bisa lebih tinggi lagi harganya, bahkan sampe 240 ribu per kilogram. Ini juga yang kami berikan edukasi kepada para petani, karena semakin tinggi kualitasnya, maka nilai ekonominya juga semakin tinggi. Makanya, kami rutin mengirimkan hasil produksi Sereh Wangi ke Balitro IPB untuk diuji kualitas secara berkala,” ungkapnya.

Ardianto juga maparin banyak hal nih, terkait peningkatan keuntungan sejak tahun 2013 silam. “Iya, meski lahan yang ada saat ini gak sebanyak awal, yakni dari 4,5 hektare, saat ini kami hanya memiliki 1,5 hektare. Tapi dari sisi keuntungan, sudah jauh meningkat, yakni dari 600 ribu rupiah aja per panen, saat ini kami mampu meraup untung hingga 2,4 juta rupiah,” ungkapnya bangga.

Kini, yang menjadi tantangan, baik dari pihak perusahaan maupun dari warga adalah kurangnya lahan yang bisa dimanfaatkan untuk tanaman serai itu sendiri. Karena, dari 1,5 hektare lahan yang ada, baru mampu menghasilkan 7-10 kilogram minyak Sumber Wangi. “Saat ini, kami sedang mengupayakan untuk mencari lahan tidur warga dan memanfaatkannya untuk menanam serai. Dengan begitu, diharapkan panen dan hasil minyak bisa lebih banyak lagi dari sekarang. Perusahaan penampung minyak yang kami dapatkan dari Jakarta, mampu menampung berapapun hasil dari Sumber Wangi ini,” harapnya.

(Teks dan Foto : RuL/17)

Your email address will not be published. Required fields are marked *