Ketua Bekraf Indonesia : Gak boleh main-main dengan Ekonomi Kreatif

Ketua Bekraf Indonesia : Gak boleh main-main dengan Ekonomi Kreatif

0

Seputarsumsel.com-Palembang,
“Gak boleh main-main dengan ekonomi kreatif”. Dengan tegas Kepala Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Triawan Munaf mengingatkan warga Sumsel yang menghadiri pembukaan Bekraf Kreatifood 2017 di Bentak Kuto Besak(BKB), Selasa (22/8).

Kenapa ya? Ternyata nih, ekonomi kreatif adalah tulang punggung ekonomi Indonesia, sehingga masa depan negeri ini ada di
tangan orang-orang yang kreatif. Atas dasar hal itu, Pemerintah Indonesia mendirikan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk mengembangkan ekonomi kreatif di negeri ini.

Keyakinan itu bukan tanpa landasan dong! Triawan menyebutkan di tahun 2016 kontribusi ekonomi kreatif terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp852 trilyun dengan penyumbang terbesar adalah sektor kuliner, yakni kuliner 41,69 persen, fashion 18,17 persen dan kriya 15,70 persen.

Dan di tahun 2017 ini, pihaknya menargetkan ekonomi kreatif dapat berkontibusi hingga mencapai Rp1000 trilyun. “Seribu trilyun saya jamin itu,” ucapnya.

Dikatakan dia, ekonomi kreatif ini berbeda dengan ekonomi yang mengandalkan sumber daya alam (SDA) selama ini.”Sumber daya dari kreatifitas bisa jadi andalan, ide atau gagasan itu semakin digali akan semakin bagus, beda dengan SDA terus digali akam habis. Kita bisa berkompetisi dengan luar negeri, baik yang karya kreatif di gital atau non digital itu sudah terbukti,” jelasnya.

Maka, pihaknya terus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di negeri ini. Meski diakuinya, jika di Indonesia lebih beragam, mulai dari kuliner, fashion, fotografi, hingga arsitektur yang semuanya harus disupport.”Semua harus kita kembangkan di Indonesia ini,” ujarnya.

Termasuk di Sumsel, ekonomi kreatif pun sangat didukung keberadaan industri kreatif di daerah tersebut. Bahkan, menurutnya Sumsel dapat menjadi salah satu percontohan, mengingat provinsi ini sangat potensial, mulai dari kuliner, fashion, hingga pariwisata.

“Sumber daya itu udah ada, tapi tinggal pengemasan. Kalau sudah dikemas dengan baik harganya kan lebih baik. Kami tidak hanya ingin mendukung kulinernya saja, tapi fashion, kerajinan, dan lainnya. Tapi ini gak bisa cepet, harus survey dan pemetaan terlebih dahulu,” ungkapnya.

Sementara Gubernur Sumsel, Alex Noerdin mengatakan orang Sumsel itu kreatif, tidak hanya dari kulinernya yang terkenal, namun juga kerajinan lainnya.

“Pempek Palembang sangat terkenal, sudah jadi icon Pariwisata palembang. Itu asli dari Sumsel, kalau ada yang mangatakan dari daerah lain itu tidak benar. Untuk pempek saja sebanyak 6 ton pempek yang dikirim lewat bandara perharinya, tidak termasuk yang dibawa pakai moda transportasi darat. Belum lagi kue delapan jam, maksuba, atau pindang patin tak kalah terkenalnya. Untuk pindang saja 17 jenis. Serta produk fashion, seperti songket, jumputan, atau kain tradisional lainnya,” jelasnya.

Sehingga, dengan adanya festival semacam ini, tidak hanya untuk mendongrak ekonomi masyarakat tetapi juga untuk melestarikannya. “Untuk lestarikan budaya, dan alhamdulillahnya festival ini dapat bantuan dari Bekraf Indonesia,” pungkasnya.

(Teks dan Foto : Ratih/Nanda Nasrullah/17)

Your email address will not be published. Required fields are marked *