Pembuatan Kamus Baso Plembang Digagas

Pembuatan Kamus Baso Plembang Digagas

0

Seputarsumsel.com-Palembang,
Bahasa Palembang atau Baso Plembang, yang menjadi salah satu ciri khas kebudayaan Palembang saat ini hampir hilang. Seiring perkembangan zaman, penggunaan bahasa Palembang sudah sangat jarang digunakan.

Penggunaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris lebih sering digunakan bahkan dimasukkan kedalam kurikulum mata pelajaran di sekolah-sekolah yang ada di Palembang, maupun di kehidupan sehari-hari masyarakat saat ini.

Untuk melestarikan kembali penggunaan Baso Plembang, yang mulai hilang, tokoh-tokoh masyarakat Palembang berupaya untuk menggemakan kembali Bahasa Palembang dengan membuat kamus Baso Plembang.

“Kita sudah bentuk tim untuk membuat kamus Bahasa Palembang ini. Mudah-mudahan dalam waktu tiga bulan kedepan kamus Bahasa Palembang ini akan selesai di buat,” ungkap Ketua Pembina Rembuk Guguk Palembang Kiagus Ali Mudin Halim saat menggelar pertemuan dengan Wakil Wali Kota Palembang Fitrianti Agustinda, Selasa (23/1).

Ali Mudin mengatakan, Bahasa Palembang saat ini sudah mulai jarang digunakan. Bahkan banyak penggunaan-penggunaan kata-kata dalam Bahasa Palembang yang sudah sangat jarang digunakan, bahkan mulai dilupakan seperti penggunaan kata-kata Kulo, Langkat, Pangkeng.
“Hanya sebagian masyarakat saja yang masih mengerti dengan kata-kata itu. Seperti Pangkeng itu kan istilah atau sebutan untuk tempat tidur,” ujarnya.

Karena itu, agar Bahasa Palembang ini tidak hilang dan punah, harus dilestarikan dan dihidupkan kembali. Mengingat di era “zaman now” seperti saat ini penggunaan bahasa daerah ini akan tergerus dengan penggunaan bahasa yang lebih modern lagi seperti Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

“Tidak hanya Bahasa Palembang saja, melainkan kebudayaan Palembang lainnya seperti kuliner, pakaian adat dan kebudayaan Palembang lainnya. Lebih bagus kalau di masukkan juga ke dalam muatan lokal di sekolah-sekolah, agar kebudayaan tradisional Palembang kembali terangkat dan diingat oleh generasi kedepan,” terangnya.

Senada di sampaikan Wakil Wali Kota Palembang Fitrianti Agustinda yang mendukung pelestarian kebudayaan adat Palembang. Terutama dengan pengangkatan kembali budaya Palembang yang dimasukkan di muatan lokal di sekolah-sekolah. Dengan begitu kebudayaan Palembang akan tetap lestari
“Kan bagus kalau ada ekstrakulikuler disekolah-sekolah seperti menari tarian khas Palembang, membuat pempek atau kerajinan membuat tenun jumputan. Kalau di Jawa ada seni membatik kenapa kita disini tidak ada seni menenun jumputan. Jangan sampai keahlian yang dulunya dimiliki oleh para orang tua tidak di miliki oleh keturunannya,” harap Fitri.

Bahkan kecintaan terhadap kebudayaan Palembang ditunjukkan orang nomor dua di Kota Palembang ini dengan selalu memakai kain khas Palembang seperti Jumputan saat menghadiri acara. Ini sebagai bentuk sinergi Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang terhadap masyarakat yang menajdi pelaku usaha kerajinan khas Palembang.

“Banyak sinergi yang kita lakukan seperti demo pempek, penggunaan pakaian adat Palembang di hari jumat oleh ASN Pemkot,” tukasnya. (Ria/18)

Your email address will not be published. Required fields are marked *