Penelitian CIFOR, restorasi gambut butuh dana 39 T

Penelitian CIFOR, restorasi gambut butuh dana 39 T

0

Seputarsumsel.com-Palembang,
Untuk pertama kalinya nih, Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) hadir di Palembang, dalam rangka berbagi ilmu dan informasi mengenai hutan tropis. Buat kamu yang belum tahu apa itu CIFOR, ini adalah pusat penelitian yang berpusat di Bogor, Indonesia gengks. Selama 23 tahun Kantornya dibangun diatas lahan seluas 10 hektare. Dan CIFOR merupakan bagian dari Pusat Penelitian CGIAR lho.

Menariknya nih, CIFOR merupakan satu-satunya pusat literatur lembaga dunia yang memiliki kantor pusat di Indonesia. CIFOR sendiri udah punya kantor wilayah lho, yakni di negara Kenya, Kamerun, dan Peru. Saat ini, sudah ada sekitar 150 pegawai yang ada di CIFOR, dengan merangkul sekitar 25 kewarganegaraan asing.

Tujuan dari CIFOR yakni meningkatkan kesejahteraan manusia, kesetaraan dan integritas lingkungan dengan melakukan penelitian inovatif.

Restorasi gambut butuh dana 39 triliun rupiah

Tahun 2015, Indonesia mengalami kerugian besar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yakni mencapai 225 triliun rupiah, dimana lahan terbakar seluas 2,6 juta hektar. Di Sumsel sendiri, ada sekitar 608 ribu hektar lahan yang terbakar, atau sekitar 23 persen dari total kerugian Indonesia.

Ada dua faktor akar masalah terjadinya karhutla nih guys, yakni faktor ekonomi dan lemahnya tata kelola lahan. Oleh karena itu, restorasi gambut menjadi salah satu jalan guna mengembalikan ekosistem alam.

Dan salah satu penunjang untuk program tersebut adalah dengan dibuatnya PP Nomor 57 tahun 2016. Meski PP ini masih diperdebatkan antara kepentingan konservasi dan ekonomi, toh peraturan ini tetap berjalan sesuai instruksi Presiden Joko Widodo.

Profesor Dr Herry Purnomo sebagai Senior Scientist di CIFOR, sekaligus guru besar di ITB ini menjelaskan nih, berdasarkan penelitian di wilayah Riau, ada nilai ekonomi lahan yang masih belum terkena sentuhan, dan yang sudah siap tanam. So, membakar lahan untuk meningkatkan aktivitas ekonomi dan nilai lahan menjadi ladang surga bagi sebagian aktor yang hanya mementingkan keuntungan.

“Harga lahan hutan sebelum dibersihkan berkisar Rp1,5 juta per hektar, lahan yang sudah dibersihkan sekitar Rp8,5 juta per hektar, lahan siap tanam dari pembakaran yakni Rp 11,1 juta per hektar, dan lahan yang sudah ditanam sawit yakni Rp40 juta per hektar,” ungkapnya.

Para pelaku pembakaran lahan sepertinya tidak paham, bagaimana rusaknya ekosistem karena karhutla ini. Oleh karena itu, restorasi gambut sangat penting dilakukan, demi mengembalikan ekosistem alam. “Butuh dana sekitar 39 triliun rupiah untuk merestorasi lahan gambut yang ada di Indonesia ini,” ungkapnya.

(Teks dan Foto : RuL/17)

Your email address will not be published. Required fields are marked *