Puisi karya sastra yang gak ada matinya!

Puisi karya sastra yang gak ada matinya!

0

Seputarsumsel.com-Palembang,
Kamu suka update status di sosial media (sosmed)? Nah, dari pada sekedar uptade doang, biar terkesan gaul atau kekinian, mending tulis sesuatu yang lebih bermanfaat, salah satunya puisi.

Selain sebagai karya sastra, puisi bisa jadi tempat curhat, menyampaikan pemikiran, pesan tau unek-unek, tapi dengan cara yang apik dan santun. Kamu kan tau donk, kalo puisi mengandung kata-kata yang indah, yang bisa buat hanyut pembacanya.

Rupanya, era globalisasi saat ini mempengaruhi perkembangan dunia literasi, bahkan puisi pun mengalami tren positif akhir-akhir ini. Gak percaya? Berselancarlah kamu ke dunia maya, pasti kamu akan dengan mudah menemukan puisi-puisi indah, baik di Facebook, Twitter, Blog, atau media sosial lainnya.

Kepala Balai Bahasa Sumsel, Aminulatif mengatakan menurutnya, puisi yang merupakan cara untuk mengungkapkan perasaan, pikiran dan tentang kehidupan dengan kata-kata yang indah.

Tak heran, jika banyak bermunculan puisi medsos, seperti di Facebook, Twitter, atau Blog, mulai dari puisi tentang percintaan, persahabatan atau pergaulan, kehidupan, hingga religi, bahkan dakwah pun dapat disampaikan dengan bahasa indah dalam puisi.

Dikatakan dia, perkembangan puisi cukup berkembangan baik, terbukti dari medsos banyak masyarakat yang menulis puisi di status mereka. “Kita melihat perkembangan aplikasi android, sosmed benar-benar di manfaatkan untuk kreasi secara bebas dan mudah. Sekarang kita perhatikan itu, betapa banyak karya puisi mereka dan banyak pula yang bagus-bagus,” ujarnya.

Nah, biar terdokumentasi dengan rapi, pihaknya pun berencana akan membukukan puisi-pusisi yang bertaburan di internet, selain emang merangkul para pujangga adalah tugas mereka. “Bolehlah, itu pemikiran bagus, ke depan kita bisa menyeleksi puisi-puisi itu untuk dibukukan,” sebutnya.

Karena sejauh ini, Balai Bahasa Sumsel baru mengarap yang tertulis di kertas saja. Maka dengan mendokumentasikan puisi-puisi di sosmed tersebut akan memanambah pengetahuan dan pastinya lebih variatif.

Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sriwijaya, Prof Nurhayati mengatakan selama puisi itu dipelajari di sekolah atau kampus, puisi tetap akan hidup “Jangan khawatir puisi akan punah,” ucapnya.

Sehingga, sambung dia, untuk memberi ruang gerak puisi pun masuk dalam kurikulum. Selain itu, bermunculanlah berbagai kelompok-kelompok atau komunitas pecinta pusisi ini. Meskipun untuk di Palembang, kelompok-kelompok ini masih terbatas di banding di Jawa.

“Saya ingat waktu masih sekolah dulu, kalau kemah disuruh buat puisi tentang kemah, atau pas jalan-jalan ke laut buat puisi tentang laut. Untuk saat ini di sekolah atau di kampus juga di pelajari, bahkan mungkin dari anak TK walaupun masih sebatas mendengarkan, lagu-lagu juga banyak yang pakai lirik puisi,” ujarnya.

Sementara, Penulis Forum Lingkar Pena (FLP) dan Penggiat Sastra asal Palembang yang berdomisili di Jakarta, Widodo Sigit Winarso, mengatakan perkembangan punia perpuisian Palembang dari era 90-an sampai sekarang berkembang cukup signifikan. Hal itu ditandai dengan semakin meningkatnya jumlah komunitas-komunitas Sastra di Palembang, dengan segala aktivitas dan kreatifitasnya, seperti Forum Lingkar Pena, Sahabat Literasi Jalanan, Sahabat Menulis, Metafora dan lain sebagainya.

“Belum lagi para penggiat sastra yang membukan Kelas Menulis Online. Begitulah kira-kira jika kita berbicara selayang pandang tentang perkembangan kepenulisan Puisi di Palembang,” ujarnya.

(Teks dan Foto : Ratih/ 17)

Your email address will not be published. Required fields are marked *